Pestaolahraga.com, Surabaya – Usai kalah telak 0-3 dari Arema Cronus, Instruktur kepala Bhayangkara Surabaya United, Ibnu Grahan, membeberkan sejumlah alasan yang menyebabkan timnya bak terkapar tak berdaya.

Selain menyoal kelemahan timnya, Ibnu juga menilai beberapa hal lain yang membuat timnya tak mampu berbuat banyak di laga ini. Ibnu menilai, penampilan kedua pemain asing barunya di laga ini belum maksimal.

Gelandang asal Brasil, Paulo Helber dan Thiago Furtuoso dos Santos, terlihat masih canggung. Kedua pemain baru ini dianggap masih butuh adaptasi untuk Bisa menyesuaikan dengan perannya masing-masing.

Eksklusif Helber, yang menggantikan Letak Abel Gebor di laga ini, berkali-kali tak mampu memutus Agresi yang dibangun Arema dari tengah. Kalah di sektor sentral inilah yang membuat pertahanan Bhayangkara SU mudah ditembus lawan.

Beberapa kali gelandang serang Arema Cronus, Srdan Lopicic ataupun Esteban Vizcarra, memang tampak leluasa menembus pertahanan Bhayangkara SU. “Mereka baru turun sekali di pertandingan resmi. Butuh proses untuk Bisa menyatu dengan tim,” Perkataan Ibnu.

tak hanya penampilan Anemia optimal kedua pemain impornya, organisasi bertahan tim ini juga dianggap tak optimal. Gol kedua yang dicetak Sunarto Yaitu bukti Rudy Widodo dkk. tak mengantisipasi datangnya lini kedua Arema sehingga di terjadi bola muntah, Sunarto Bisa berdiri bebas dan menjalankan tembakan ke arah gawang.

Begitu pula gol Gustavo Giron yang memotong datangnya bola dari tendangan sudut. Buruknya antisipasi bola-bola mati dinilai suatu kelengahan yang dilakukan para pemain belakang. Padahal, di latihan ataupun briefing 1 jam sebelum pertandingan, Ibnu sudah mengingatkan Otavio Dutra cs. supaya mengawasi dan mengikuti setiap pemain Arema yang Dinamis.

“Ada 2 pemain Arema Dinamis tanpa pengawalan berarti sehingga bola Bisa langsung dipotong sebelum jatuh ke mereka. Sementara pemain kami statis menunggu datangnya bola,” keluh Ibnu.

Terlepas dari kesalahan itu, ia juga menilai lini depan timnya tak tajam. Ada beberapa kali peluang yang menurutnya Bisa Jadi gol, akan tetapi justru terbuang begitu aja. Disorientasi satunya tendangan dari luar kotak penalti yang dilakukan Ilham Udin Armaiyn.

“Berkali-kali sudah saya sampaikan supaya tak wajib keras untuk menyelesaikan peluang, tapi yang terjadi justru sebaliknya,” Perkataan sang Instruktur.

Kurangnya ketenangan serta kesabaran anak buahnya serta di membangun Agresi dan menyelesaikan peluang dianggap Jadi pekerjaan rumah yang wajib Genjah dibenahi Ibnu dan jajaran tim Instruktur Bhayangkara Surabaya United.