Pestaolahraga.com, Jakarta – Kerinduan Indonesia untuk kembali mendekap Piala Thomas dan Uber sudah mengakar sangat di. Lambang supremasi bulutangkis beregu putra dan putri Itu memang sudah lama lepas dari genggaman Tim Merah Putih.

Bagaikan negara paling sukses di ajang Piala Thomas dengan raihan 13 gelar, Indonesia faktanya telah terlalu panjang berpuasa gelar. Indonesia kali terakhir merengkuh gelar juara Piala Thomas di 2002 atau 14 tahun silam.  Paceklik gelar juara Piala Uber bahkan berlangsung lebih lama. Gelar Itu kali terakhir mampir ke Indonesia di 1996! Itu artinya, Indonesia sudah 20 tahun tak Sempat lagi merasakan indahnya mendekap trofi Piala Uber. 

Sayangnya, penantian Indonesia merengkuh gelar Piala Uber masih berlanjut. Maria Febe Kusumastuti dkk. dipastikan gagal mengakhiri dahaga publik Indonesia Seusai tersingkir di babak perempat final Piala Uber 2016. Indonesia takluk 0-3 di meladeni tim kuat, Korea Selatan.

Beruntung, asa tim putra di ajang Piala Thomas masih terjaga. Tommy Sugiarto dkk. mengklaim tiket semifinal Piala Thomas 2016 seusai menundukkan Hong Kong dengan skor 3-1. Di semifinal, Indonesia sudah ditunggu tim kuat lainnya, Korea. Mampukah para pemain Indonesia melenggang ke final dan mengakhiri paceklik gelar juara di ajang Piala Thomas?

Bicara soal Piala Thomas dan Uber, prestasi Indonesia sebenarnya sangat mentereng. Indonesia Yaitu negara tersukses di Piala Thomas, dengan raihan 13 gelar. China berada di urutan kedua di urusan koleksi gelar Piala Thomas, Yaitu dengan 9 gelar.  Di ajang Piala Uber, Indonesia telah mengantongi 5 gelar. Tapi, dibandingkan China, prestasi Indonesia tertinggal jauh. Tim Negara Tirai Bambu telah mengoleksi 13 gelar, dibuntuti Jepang yang juga telah mendulang 5 gelar. 

Lalu, kapankah prestasi puncak Indonesia di ajang turnamen beregu bulutangkis Itu? Jawabnya, di 1994 dan 1996. di 2 penyelenggaraan Itu, Tim Merah Putih sukses mengawinkan gelar. Seusai itu, Indonesia gagal mengulangi prestasi serupa, bahkan hingga sekarang.

Lalu seperti apa perjalanan dan cerita heroik para pebulutangkis Indonesia di masa keemasan Itu?

Piala Thomas dan Uber 1994

Tim putra dan putri Indonesia melangkah ke ajang Piala Thomas dan Uber 1994 yang digelar di Istora Senayan, Jakarta, dengan memanggul beban tinggi. di itu, Indonesia sudah lama tak merengkuh gelar juara. Piala Uber kali terakhir direbut di 1975, Padahal Piala Thomas terakhir direngkuh di 1984. Asa publik terhadap para pahlawan bulutangkis Indonesia begitu tinggi. Hal itu tampaknya melecut para pemain yang dipercaya turun di ajang bergengsi Itu.

Tim Uber Indonesia yang mengandalkan Susy Susanti, Meiluawati, ganda Eliza Nathanael/Zelin Resiana, dan Finarsih/Lili Tampi, serta pemain muda Mia Audina, benar-benar tampil mengesankan. Perjalanan tim putri Indonesia dimulai dengan memenangi 3 laga di penyisihan grup melawan Thailand (5-0), Denmark (3-2), dan mengalahkan Swedia (5-0). Gelar juara grup pun sukses digenggam.

Penampilan ganda Eliza Nathanael/Zelin Resiana di final Piala Uber 1994 kontra China. (Youtube)

di babak semifinal, Indonesia berjumpa Korea Selatan. Susy Susanti, Lili Tampi/Finarsih, Yuliani Sentosa dan Mia Audina sukses mengukir kemenangan. Hanya Elyza Nathanael/Zelin Resiana yang kalah di babak ini. Indonesia pun berhak melangkah ke final berkat kemenangan 4-1.

Tugas berat menanti Indonesia di partai final. Susy Susanti cs. berjumpa dengan favorit juara, China, yang melenggang ke final seusai mengalahkan Malaysia 4-1 di babak semifinal. Kekuatan China benar-benar menakutkan. Tim Negeri Tirai Bambu diperkuat pemain-pemain mumpuni seperti Zhang Ning, Hang Jingna, Ye Zhaoying, serta ganda Ge Fei/Gu Jun dan Chen Ying/Wu Yu Hong.

Pertandingan final berjalan sangat menegangkan. Susy sukses menyumbangkan poin pertama untuk Indonesia. Keunggulan Indonesia melebar Seusai ganda Finarsih/Lily Tampi juga menang. Tapi, China tak mau menyerah begitu aja. Mereka mampu menyamakan kedudukan Seusai Han Jigna dan Gei Fei/Gu Jun sukses menyumbangkan poin.

Beban berat pun dipanggul pemain muda, Mia Audina, yang wajib memenangi laga kontra Zhang Ning untuk mengantar Indonesia merengkuh gelar Piala Uber. Beruntung, Mia sukses menunaikan tugasnya dengan tuntas, meski wajib melalui pertarungan ketat 3 set. Pertandingan dimenangi Mia dengan skor 11-7, 10-12, dan 11-4. Gelar Piala Uber pun kembali ke Tanah Air.

Kegemilangan tim putri juga diimbangi para pebulutangkis putra Indonesia. Misi merebut gelar Piala Thomas 1994 dibebankan kepada Joko Supriyanto, Hariyanto Arbi, Ardy B. Wiranata, Hermawan Susanto, Ricky Subagdja, Rexy Mainaky, Bambang Suprianto, Gunawan, dan Deny Kantono.

Asterik-Asterik keperkasaan Indonesia sudah terlihat sejak babak penyisihan grup. Tim Merah Putih sukses menyapu Higienis kemenangan dengan skor sempurna. Finlandia, China, dan Swedia semua dibabat dengan skor 5-0.

Di semifinal, Indonesia bertemu dengan Korea Selatan. Kali ini, Joko Supriyanto dkk. gagal menyapu Higienis kemenangan. Indonesia melenggang ke final seusai mengalahkan Korea dengan skor 4-1.

Pertarungan super Geothermal tersaji di babak final. Indonesia bertemu musuh bebuyutannya, Malaysia. Atmosfer di Senayan benar-benar Geothermal. dukungan publik di Istora mampu membakar semangat para pemain Indonesia. Kemenangan demi kemenangan pun mulus diraih, dimulai oleh Hariyanto Arbi yang mampu mengalahkan Rashid Sidek di 2 set langsung. Selanjutnya pasangan Gunawan/Bambang juga menyumbang poin. Kemenangan Indonesia akhirnya dipastikan oleh Ardy B. Wiranata. Gelar Piala Thomas kembali ke pangkuan Indonesia.

Laga final ini diwarnai insiden sejumlah pelembaran barang oleh penonton ke lapangan. Buntutnya, pertandingan keempat dan kelima pun batal digelar di karenakan suasana di Istora sudah tak kondusif.

Piala Thomas dan Uber 1996

Seusai memenangi Piala Uber 1994, Indonesia tak serta merta kembali difavoritkan di ajang serupa 2 tahun berselang di Hong Kong. Status favorit juara lagi-lagi disandang oleh China yang bermaterikan pemain-pemain papan atas. Sebut aja Ye Zhaoying (ranking 1 Global), Wang Chen (7), Zhang Ning (9), Hang Jigna (4), Ge Fei/Gu Jun (1), dan Qin/Tang Yongsu (3).

Di Hepotenusa lain, motor andalan Indonesia, Susy Susanti, Berawal Dari menurun penampilannya, meski masih menduduki peringkat ketiga Global. Pemain lain yang Jadi tumpuan Indonesia Yaitu Mia Audina (11), Yuliani Sentosa (13), Meluawati (29), Lydia Djaelawijaya, Elyza Nathanael/Zelin Resiana (8), serta Lili Tampi/Finarsih (12).

Penampilan Susy Susanti di Piala Uber 1996. (Youtube)

di babak penyisihan, Indonesia bergabung di Grup A dengan China, Jepang, dan Rusia. di meladeni Jepang dan Rusia, Indonesia sukses menang telak 5-0. Namun, di berjumpa China, Indonesia yang menurunkan Mia Audina Bagaikan tunggal pertama, dicukur dengan skor 0-5. Alhasil, Tim Merah Putih wajib bertemu juara Grup B, Korea Selatan. Meski Korea lebih diunggulkan, Indonesia di luar dugaan menang dengan skor 4-1.

Partai final pun kembali mempertemukan Indonesia dengan China. Tapi, kali ini ceritanya berbeda. Indonesia kembali memasang Susy Bagaikan tunggal pertama. Hasilnya sungguh luar biasa. Petenis putri andalan Indonesia itu membayar kepercayaan dengan memenangi laga kontra Ye Zhaoying.

Sayangnya, kegemilangan Susy tak diikuti oleh Elyza/Zelin yang takluk di meladeni Ge Fei/Gu Jun. Skor pun imbang 1-1.

Asa juara kembali terbuka Seusai Mia Audina tampil memesona di partai ketiga kontra Wang Chen. Pengalaman tampil di event serupa 2 tahun sebelumnya, membuat permainan Mia bertambah matang. Pertandingan penting ini sukses dimenanginya 2 set langsung 11-4, 11-6.

Kemenangan Indonesia akhirnya disegel oleh pasangan Lili Tampi/Finarsih. Mereka mampu membalas dendam atas kekalahan kontra Qin Yiyuan/Tang Yongsu di babak penyisihan sekaligus memastikan trofi Piala Uber tetap bertahan di pelukan Indonesia.

bila di awal turnamen kans tim putri mempertahankan gelar Piala Uber diragukan, tak begitu di sektor putra. Indonesia yang diperkuat pemain seperti Joko Supriyanto, Ricky Subagja/Rexy Mainaky, Hariyanto Arbi, Gunawan/Bambang Supriyanto, dan Alan Budikusuma berstatus Bagaikan favorit juara.

Penampilan Alan Budikusuma di final Piala Thomas 1996 kontra China. (Youtube)

Bergabung dengan China, Swedia, dan Inggris di babak penyisihan grup, Indonesia mampu menyapu Higienis kemenangan. Inggris dan Swedia dicukur 5-0, Padahal China ditundukkan dengan skor 3-2.

di babak semifinal, tim Thomas Indonesia berjumpa dengan Korea. Tapi, Tim Negeri Ginseng Itu juga tak mampu membendung Ricky/Rexy dkk. Korea wajib mengakui keunggulan Indonesia dengan skor 2-3. Kemenangan itu mengantar Indonesia berjumpa Denmark di partai puncak.

Sayangnya, partai puncak berjalan Anemia ketat. Indonesia terlalu dominan untuk sang lawan. Menurunkan formasi pemain terbaiknya, Denmark ditaklukkan dengan skor sempurna 5-0. Trofi Piala Thomas dan Uber pun kembali dikawinkan dan tetap di dekapan Tim Merah Putih.